Ketika Mei 2005 Dr Ir Robert Manurung MEng bersama Himpunan Kerukunan Tani Indonesia, Nahdlatul Ulama, dan Institut Pertanian Bogor, memelopori jarak pagar menjadi program energi nasional, peristiwa itu membuka horizon lebih luas lagi tentang bahan bakar nabati. Pertemuan mereka berlangsung di kampus Institut Telnologi Bandung, tempat Manurung melakukan penelitian tentang jarak.
Popularitas jarak pagar (Jatropha curcas) sebagai bahan bakar dipicu melambungnya harga bahan bakar fosil di atas 50 dollar AS per barrel. Keadaan ini membuat produksi bahan bakar nabati (biofuel) menjadi layak dilakukan dari sisi ekonomi.
Sejak itu, minyak jarak semakin populer. Manurung sebagai orang yang telah meneliti jarak sejak tahun 1991, menyebut popularitas jarak tidak lain karena tanaman ini memang istimewa. Biji jarak cukup diperas dan minyaknya langsung digunakan sebagai bahan bakar. "Tinggal dihilangkan gum-nya, tetapi itu tidak sulit dan tidak mahal," kata Manurung.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengakui pengetahuan Manurung dalam jarak sehingga dia dilibatkan oleh United Nations Department of Economy and Social Affair untuk ikut di dalam tim yang bertugas mencari bahan bakar nabati dan bagaimana pola pengembangannya dalam pembangunan Subsahara Afrika.
"Saya satu-satunya orang di luar orang Afrika di dalam tim itu," papar Manurung yang baru tiba di Jakarta dari pertemuan PBB di New York pada Senin (2/4).
Doktor bidang teknik kimia dari Rijksuniversiteit Groningen, Belanda, itu sebelum ke New York sempat ikut pertemuan internasional para ahli jarak di Universitas Wageningan, Belanda.
"Di Wageningen kami membicarakan, antara lain produktivitas jarak. Mereka mengakui tanaman jarak kita memiliki produktivitas terbaik di dunia karena tanah yang lebih subur, bahkan di lahan marjinal sekalipun, dan curah hujan kita jauh lebih banyak dibandingkan tempat lain di daerah tropis.
"Mereka sepakat tanaman jarak terbaik dari seluruh dunia ada di Indonesia. Ini berkah untuk kita sehingga bila program jarak ini tidak jalan, itu salah kita," kata Manurung yang menjadi anggota Kelompok Kerja Pengembangan Biofuel Himpunan Kerukunan Tani Indonesia.
Apa posisi jarak di peta energi dunia dibandingkan dengan sumber energi dari tanaman lain?
Pengetahuan mengenai jarak di negara maju masih terbatas. Dalam tiga tahun terakhir pengetahuan kita mengenai jarak lebih banyak. Ini masalah informasi yang sering didominasi negara maju, sementara jarak itu tumbuh di negara berkembang. Banyak juga isu yang mendiskreditkan jarak, yaitu racun di jarak dapat merusak lingkungan. Namun, isu itu sudah dibantah para peneliti yang berkumpul di Wageningen.
Kita di Indonesia punya banyak penelitian jarak yang lebih maju dan kaya dibandingkan dengan negara-negara lain. Ini disebabkan sifat alamiah tanaman jarak itu sendiri dan lingkungan di Indonesia yang memungkinkan jarak tumbuh baik.
Prospeknya di pasar dunia?
Bahan bakar nabati dari tanaman pangan ditolak keras, juga di Afrika. PBB sudah mengakui potensi jarak untuk rehabilitasi tanah, pengurangan kemiskinan, dan pengembangan kemakmuran. Dua yang terakhir itu memungkinkan juga pengembangan komunitas.
Salah satu yang dibahas adalah agar tumbuh akses pada energi dan dari situ dimulai kegiatan produktif. Masyarakat tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga produsen. Juga direkomendasi agar pemerintah memfasilitasi tumbuhnya bisnis dari kegiatan minyak jarak.
Kita perlu mesin dan tanamannya, kita perlu rekayasa sosial mengubah pola pikir, tetapi yang penting harus tumbuh pelaku-pelaku bisnis di dalam jarak yang menggabungkan antara teknologi mesin dengan teknologi sosial agar terjadi transaksi. Yang penting juga, sumber energi untuk bahan bakar jarak ini gratis, yaitu matahari. Karena itu yang perlu dibangun adalah pembagian peran masyarakat dan pemerintah agar berguna bagi masyarakat luas. Yang penting dalam minyak jarak adalah aset berupa tanah di mana tanaman ini tumbuh sehingga perlu pengelolaan tanah yang baik dan rakyat melalui koperasi misalnya, mendapat hak legal untuk pengelolaan tanah sehingga tanaman terpelihara. Pengusaha yang masuk adalah menghargai hak-hak itu.
Anda sudah menguji coba minyak jarak dengan membuat perjalanan darat dari Waingapu hingga Jakarta, tindak lanjutnya?
Sebelum ke Belanda dan Amerika, saya berkeliling ke Kalimantan dan Indonesia bagian timur. Yang saya temukan memang ada salah kaprah, yaitu pengertian tanaman ini dapat tumbuh dengan mudah diartikan sebagai tidak perlu dipelihara. Tetap tanaman itu memerlukan air dan mineral, tetapi mineralnya tidak perlu berupa pupuk anorganik, seperti urea. Kami anjurkan menggunakan kompos.
Saya menemukan banyak tanaman mati karena tidak ditangani secara holistik. Yang menyediakan bibit satu departemen, yang menanam departemen lain, yang mengelola departemen lain, dan tidak holistik, sehingga gampang sekali mengatakan bukan tanggung jawab saya dan tanaman ini tidak cocok untuk daerah tertentu.
Saya sudah sampaikan kepada Menneg Ristek (Menteri Negara Riset dan Teknologi) untuk mencoba menanam jarak dalam jumlah kecil dulu untuk kemudian baru dijadikan contoh bagi daerah lain.
Jual ke New York
Robert Menurung sejak awal sudah menekankan pentingnya mengembangkan jarak tidak hanya untuk bahan bakar nabati. Itu sebabnya Manurung yang secara resmi ditunjuk sebagai perwakilan akademis di Indonesia Universitas Groningen mengusulkan agar lebih banyak lahir peneliti dalam berbagai aspek minyak jarak.
"Sekarang ada delapan calon doktor yang dari Indonesia di bidang jarak untuk melanjutkan di Groningen dan Wageningen dengan biaya dari The Netherland Royal Academy of Science and Art yang seleksinya ketat sekali. Saya ikut menyeleksi topik penelitiannya yang menguntungkan Indonesia," tutur Manurung.
Selain masalah budidaya jarak?
Pada permesinan juga sama, harus ada skala. Justru masalahnya adalah ketika pemerintah membuat program Desa Mandiri, yang bagus saja, tetapi Desa Mandiri yang terisolasi tidak pernah tumbuh. Buku The Origin of Wealth. Evolution, Complexity, and the Radical Remaking of Economics karangan Eric D Beinhocker (2006), misalnya, menyebutkan mengapa Homo sapiens dapat bertahan 130.000 tahun lalu karena mereka menciptakan perdagangan yang dengan begitu menciptakan jejaring kerja.
Bila minyak yang dihasilkan hanya untuk memenuhi kebutuhan desa itu, desa itu tidak dapat menciptakan kemakmuran, kesejahteraan. Kasihan petani bila dia memproduksi minyak jarak hanya untuk mengganti minyak tanah yang harganya Rp 2.000.
Skalanya terlalu kecil dan justru bila desa bisa menjual ke luar, desa akan mendapat uang segar dari luar yang baik untuk kesejahteraan desa.
Di PBB kami membicarakan bagaimana mentransformasi alokasi kemakmuran menjadi pembangkitan kemakmuran (wealth generation). Itu juga sebabnya mengapa PBB terjun pada jarak karena PBB melihat kesempatan bukan hanya sekadar mengurangi kemiskinan, tetapi membuat desa makmur dengan pembangkitan kemakmuran.
Untuk petani yang menanam dan mengolah jarak?
Itulah. Yang saya lihat di Indonesia, pemerintah membuat skalanya menjadi begitu kecil-kecil. Untuk luas tanaman 500 hektar ada 20 mesin pengolah. Begitu kecil sehingga skala ekonominya tidak efisien lagi untuk tumbuh berkembang, walau masih bisa hidup untuk dirinya sendiri. Asupan energinya terlalu tinggi dibandingkan dengan hasilnya.
Idenya bagus, yaitu agar masyarakat dapat memiliki. Akan tetapi, untuk memiliki harus punya kemampuan mengelola. Dan, bila semua memiliki, tidak terjadi perdagangan, semua menjadi generalis. Bila terjadi perdagangan, orang akan melakukan spesialisasi: bertani, pemrosesan, perdagangan, yang petani mendapat manfaat dari kegiatan itu.
Industri turunan
Robert Manurung menyebutkan, di pasar dunia minyak jarak disukai sebab dapat langsung digunakan dan tidak berkompetisi dengan industri di Eropa dan Amerika yang menghasilkan biodiesel, yaitu minyak nabati yang masih harus ditambah metanol.
Ke depan, Manurung akan memperluas jejaring internasionalnya sedang di Indonesia dia terus membuat pelatihan, antara lain dengan Induk Koperasi Unit Desa.
Yang Anda usulkan?
Yang kita bicarakan adalah bahan bakar nabati, jadi yang dihasilkan petani seharusnya dapat dijual ke New York, bukan hanya dijual kepada tetangga di dalam desanya. Itu sebabnya mengapa Homo sapiens bisa bertahan, yaitu karena mereka berdagang.
Kita tidak dapat melepaskan bahan bakar nabati berdiri sendiri, justru harus membangkitkan kegiatan lain. Dalam presentasi, saya sampaikan konsep valorisation memakai teknik bio refinery, yaitu segala hal dari jarak harus bisa dipakai bukan hanya untuk menghasilkan bahan bakar nabati, tetapi dikembangkan industri turunannya. Bungkilnya untuk kompos, pakan ternak, sabun, pestisida, dan seterusnya.
Pemerintah harus memberi insentif untuk usaha yang membuat nilai tambah dari limbah pertanian apa pun. Misalnya, tidak mengenakan pajak, karena yang diolah limbah. Saya tidak keberatan bila industri minyak nabatinya dikenai pajak.
Namanya bukan industri minyak jarak, tetapi industri berbasis jarak. Dari situ akan tumbuh spin off industri.
Agar petani menikmati nilai tambah tertinggi pada pengubahan dari biji menjadi minyak jarak?
Saya mengusulkan koperasi kapitalis, koperasi yang tidak sama rasa sama rata. Mereka yang bekerja lebih keras mendapat hasil yang lebih baik. Dengan demikian, kompetisi di antara anggota koperasi akan terjadi. Di sisi lain, koperasi akan melindungi petani anggota agar tidak menjadi bahan perasan pemilik modal besar.
Kita dapat mencontoh produksi gula Rajawali Nusantara Indonesia, yaitu membangun kepercayaan antara petani dan industri pemrosesan sehingga hasil pemrosesan biji jarak dapat juga dinikmati petani. Bukan soal ikut memiliki atau tidak pabrik pemrosesan, tetapi membangun sistem yang memungkinkan petani ikut menikmati hasil.
Di PBB kami sepakat, supaya berkelanjutan sistem ini harus menguntungkan. Untuk itu harus efisien dan ada skala ekonominya.
Tanggal Tayang : 9-4-2007
Sumber : Kompas