JAKARTA. Di dalam negeri pro-yek biofuel memang maju mun-dur. Namun, para produsen etil alkohol atau etanol, bahan baku biofuel sekelas Pertamax dan Pertamax Plus, tidak berkecil hati. Pasar etanol di luar Indonesia teramat luas.
Salah satu produsen etanol di Indonesia adalah PT Molindo Raya Industrial. Produsen etanol yang berbasis di Surabaya itu tetap memproduksi etanol. Bahkan, Molindo akan mening-katkan produksi menjadi sedi-Mtnya 60.000 kiloliter per tahun dari 40.000 kiloliter per tahun.
Molindo sudah mengembang-kan biofuel dari tetes tebu tiga tahun lalu. Saat ini, Molindo memproduksi etanol untuk bahan bakar kendaraan bermotor sebanyak 10.000 kiloliter per tahun. Namun, jumlah ini belum seluruhnya terserap pasar. Pertamina, yang mendapat tugas menjual biofuel, baru memiliki beberapa unit pompa biofuel.
"Di Surabaya, baru ada satu pom bensin Pertamina yang menjual Biopertamax," kata Indra Winarno, Komisaris PT Molindo, kepada KONTAN. Dalam bulan April, Pertamina berencana menambah beberapa pom bensin yang menjual Biopertamax, terutama di Jakarta.
Sekarang ini, ada dua jenis biofuel. Pertama, biodieselyang berbahan baku miunyak kelapa sawit atau minyak jiarak dan digunakan untuk mesin-mesin diesel. Kedua adalah gasohol, yang merupakan stkronim dari gasoline plus etil alkohol, istilah lain dari etanol. Ada juga yang menyebut gasohol sebagai bio-etanol. Gasohol alias bioetanol yang beredar di pasar dalam negeri terdiri dari Eliopremium dan Biopertamax.
Biopremium merupakan campuran etanol dan premium de-ngan komposisi peibandingan 95:5. Campuran itu menghasilkan jenis bensin sekelas Pertamax karena kada oktan campuran tersebut menjadi 92. Sementara, Biopertamax merupakan campuran etainol dengan Pertamax yang memiiliki kadar oktan 92. Biopertamaix memiliki kadar oktan 96, sedikit lebih tinggi daripada Pertamax Plus yang memiliki kadar 94.
Di dalam negeri, proyek biofuel maju mundur, terutama karena harga minyak bumi yang cenderung membubung lebih dari U$ 50 per barel. Jika minyak berada di kisaran harga itu, maka bisnis biofuel tak akan menguntungkan. Kecuali, peme-rintah memberikan subsidi bagi para produsen biofuel.
Kecenderungan harga minyak yang merugikan produsen biofuel itu memicu Pertamina untuk mengubah komposisi campuran
biofuel-nya. Jika semula perbandingan
biofuel dengan bensin atau solar adalah 5%:95%, sekarang komposisi menjadi 2,5%: 97,5%. Jadi, porsi minyak sawit atau etanol dikurangi.
Bagi PT Molindo, perkem-bangan harga minyak tidak menjadi masalah. Perusahaan ini memang tidak akan mening-katkan produksi etanol absolutyaitu etanol yang kadarnya mencapai 99,95%. Alasannya, produksi etanol absolut saat ini belum terserap semua oleh Pertamina. "Namun, PT Molindo akan tetap meningkatkan produksi etanol murni dari 40.000 kiloliter menjadi sekitar 60.000 hingga 70.000 kiloliter per tahun," kata Indra. Etanol murni adalah etanol yang berkadar 96,5%. Etanol jenis ini digunakan untuk industri.
Mencari pasar etanol bukan sesuatu yang sulit. "Kami bisa mengekspornya. Pasar interna-sional sangat besar," kata Indra. la menyebut Brazil sebagai con-toh. Di negara Amerika latin itu, persentase
biofuel untuk kendaraan bermotor sudah di atas 50%. "Permintaan etanol absolut besar, karena
biofuel sedang laku-lakunya di seluruh dunia," imbuh Indra.
Untuk mempopulerkan
biofuel, Molindo mengisi seluruh mobil operasionalnya dengan biofuel yang berkomposisi 15%:85%. Perlu dicatat, mobil-mobil Molindo tidak mengalami modifikasi mesin.
Tanggal Tayang : 30-3-2007
Sumber :