Jangan patahkan harapan mereka
(jatropha ekspedisi 1
)
   
 
   
 
   
   
   
   
   
   
 
Bagi yang ingin
bertanya apapun
tentang Bioenergi
silahkan klik
live chat kami,
customer support
kami akan
membantu anda


Live chat by Boldchat
Live chat by Boldchat
 
   
 

Counter Stats
   
   
   
   
 Jangan patahkan harapan mereka

Jatropha Expedition 2006", merupakan ekspedisi lintas pulau untuk mengujicoba naan minyak jarak ("jatropha curcas") pada kendaraan roda empat dengan menempuh 3.000 kilometer dari Atambua Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga Bali12-20 Juni 2006 lalu. Sejumlah catatan penting tentang uji coba energi tif yang diprakarsai oieh National Geographic Indonesia bersama Pusat ian Teknologi Bioteknologi ITB itu, kami turunkan dalam Terawang.

Jam menunjuk pukul 22.30 Wita, ketika iringan delapan kendaraan Ekspedisi Jatropha 2006 akan di dingin malam. Alat pengukur temperatur suhu mobil menunjuk 18 derajat Celsius. Sebagian kru telah terlelap pun terbangun untuk menerima sambutan dari Camat Boawae, Kabupaten Ngada, Nusa nusa Timur (NTT), pertengahan Juli 2006 lalu.

 Tiga jam kemudian, perjalanan terhenti lagi. Kali ini, sekelompok warga dengan upacara adat singkat mendoakan agar rombongan dilindungi selama perjalanan. Tak lupa, seekor ayam jantan putih diserahkan sebagai simbol perlindungan.

Karena sudah dini hari, warga langsung menyilakan rombongan melanjutkan perjalanan.

Berbeda dengan perhentian kami sebelumnya di Boawae. Saat itu, di tengah kantuk yang sangat, setelah menempuh perjalanan non-stop sejak pagi, tim menerima pemaparan kondisi geografis kecamatan, pesan-pesan, dan harapan warga atas pengembangan biji jarak pagar (Jatropha curcas).

Antusiasme mereka katanya telah lama muncul, di antaranya ditunjukkan dengan pengiriman dua pengajar Sekolah Pertanian serpong, Tangerang. Selama sepekan, mereka mengikuti pela- tihan pengembangan tanaman jarak pagar di Pusat Penefftian -----Bioteknologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi {Puspiptek) Serpong, Tangerang. "Kami diminta pemerintah daerah mengembangkan jarak pagar di XTT. Kami menunggu lama adanya kabar pengembangan jarak pagar lebih lanjut," kata Kepala Sekolah SPMA, Gabriel, ketika itu.

Karena ditunjuk sebagai salah satu tempat pengembangan, me­reka membekali diri dengan pe- ngetahuan-pengetahuan lanjut. Selama ini, warga menanam ja­rak pagar begitu saja di hutan. Hasilnya, sebagai energi untuk menghidupkan pelita.

Bagi rombongan ekspedisi, "interupsi" di perjalanan dan penjelasan seperti malam itu bukanlah yang pertama, juga bu- kan yang terakhir sepanjang ek­ spedisi berjarak sekitar 3.300 ki­lometer dari Atambua-Denpa-sar-Bandung-Jakarta yang di- tempuh selama satu pekan ter- sebut.

Sebelumnya. di hari pertama perjalanan. rombongan ekspedisi setidaknya dicegat tiga kali di tengah terik matahari sepanjang rate Atambua-Kupang yang berjarak tempuh sekitar 273,9 ki­ lometer.

Satu harapan; tanaman jarak pagar dapat terus dikembangkan sehingga bernilai ekonomis. Bila bibit cukup, mereka berencana menanam di lahan seluas 40 hektar. Harapannya, lahan tidak produktif itu berubah bernilai ekonomis yang meningkatkan kesejahteraan mereka

Kepada salah satu unsur peserta ekspedisi, PT BioChem Prima International, yang berniat membangun pabrik dan kebun jarak pagar di NTB, masyarakat meminta penegasan. Wakil investor menegaskan agar masyarakat bersabar karena semua infrastruktur sedang dibangun.

Keingintahuan dan adanya jaminan kepastian untuk petani sangat wajar. Pasalnya, kisah tragis pernah menimpa warga di Pulau Rote. Waktu itu, sekitar tahun 1990-an, ketika masyarakat yang telah menanam jarak,ditinggal begitu saja oleh inveartor

Munculnya harapan besar da­ ri jarak pagar sangat wajar. Hal ini didasarkan atas kondisi ge­ ografis d' kawasan NTT dan NTB yang kering dan tandus. Bertanam padi, jelas bukan pi- lihari tepat di wilayah kekurangan air.

Bayangkan, berapa banyak warga yang akan menikmati ni-lai ekonomis dari biji jarak pa­gar, bila rantai produksi dari hu- lu hingga hilir benar-benar ter- wujud. Seperti diungkapkan Wa­ kil Gubernur NTT Frans Lebu-raya ketika melepas tim ekspe­ disi di Kabupaten Belu, NTT, di wilayahnya tersedia lahan seluas 1,7 hektar tidak produktif yang siap ditanami jarak pagar.

Kepada kelompok tani yang mengikuti upacara resmi di halaman kantor Bupati Belu , ia meminta agar mereka menanam jarak di lahan yang tidak produktif saja.Penegasan itu dinilai perlu karena dikhawatirkan masyarakat berharap terlalu cepat akan nilai ekonomis jarak pagar se­ hingga lupa diri. Ujung-ujung-nya, ketahanan pangan wargalah terancam.

Sementara, hingga saat ini be- lum satu pun pabrik pengolahan berdiri di NTT maupun NTB. Satu pabrik tengah dibangun PT Amartha Trans Nusantara di kawasan Ki Balok, Nusa Tenggara Barat. Jarak pagar dapat terus dikembangKan sehingga bernilai ekonomis.

Pada pertengahan Juni 2006 lalu itu, hampir di sepanjang rute Atambua-Kupang, rombongan disuguhi pemandangan alam hamparan perbukitan kering. Bahkan, bisa dikatakan tandus.Di sanalah, penduduk tinggal dengan rumah adat berdinding papan beratap sejenis jerami. Sedikit saja rumah berdinding batako beratap asbes. Hamparan lahan kering di sekitarnya di- tumbuhi rumput bersemak belukar.

Masyarakat yang tinggal di kawasan seperti itulah yang an-tusias menyambut rombongan. Sambutan diwarnai upacara tra-disional plus tarian yang diha- diri puluhan hingga ratusan warga mulai dari anak-anak hingga lanjut usia, tanpa alas ka-ki, yang telah berjam-jam me- nunggu. Dengan tulus, mereka menyuguhkan hasil bumi, seper­ti jeruk, pisang, dan kelapa mu- da. 1

Di Desa Tetaf, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), NTT, masyarakat berinisiatif mena- nam bibit jarak pagar di lahan tidak produktif seluas dua hekTar

Yapen Waropen

Aroma "harum" minyak jarak pagar juga telah sampai di Papua. Bupati Yapen Waropen Daud Sulaiman Betawi, secara khusus menghadiri Festival Jatropha 2006 di Bali. la sangat berminat mengembangkan ta-naman jarak pagar di wilayah nya.

la juga mengabarkan bahwa delapan kabupaten di Papua siap mengembangkan tanaman yang sama. Adapun luas lahan kese- luruhan mencapai lebih dari dua juta hektaf. Bila tidak ada ha- langan, saat ini mereka sudah menanam bibit di atas lahan ra­tusan hektar.

Salah satu mimpinya, masya­ rakat pedalatnan tidak lagi ber- gantung pada ketersediaan ba- han bakar fosil, yang selain har-ganya selangit, ketersediaannya pun tidak jelas. Untuk itu, me­reka siap mengembangkan me- sin diesjal sederhana yang dapat digerakkan minyak jarak murni.

Untuk kampanye, pertengah­ an bulan September 2006 men- datang akan digelar Yapen Teh- no Agroplitan. Di sana akan dipamerkan dan dikenalkan

unggulan minyak jarak sebagai energi alternatif.

Bahkan, penemu pemurnian minyak jarak murni dari .Puslit Bioteknologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Robert Manurung, mengatakan, bersama beberapa tokoh mereka siap mendirikan sekolah yang rencananya akan diberi narna Institut Teknologi Yapen. "Kami ingin supaya pengembangan jarak pagar berada di tangan putra daerah," kata dia.

Sekolah tersebut dimaksud-kan melengkapi pembangunan sarana, seperti industri pengolahan biji jarak. Tujuannya, ran-tai pengembangannya benar-benar menyejahterakan warga lokal.

Dukungan pemerintah

Di Jawa Tengah, awal Juni 2006, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan pentingnya mengembangkan ba- han bakar bio sebagai alternatif atas langkanya ketersediaan ba han bakar fosil di dunia. Sejum- lah menteri dikumpulkan untuk membahas cetak biru-nya.

Jelas, sebuah dukungan awal pemerintah yang patut disambut dengan pengembangan di ting-kat basis. Pilihan pun jatuh pada beberapa sumber, seperti kelapa sawit, tanaman jarak, singkong, tebu, dan sumber-sumber lainnya.

Yang digaris bawahi presiden, pengembangan tersebut harus diarahkan kepada pengurangan kemiskinan dan menumbuhkan kesejahteraan masyarakat di ka-wasan tertinggal. Sebuah kabar baik dan arah yang menyejuk- kan.

Setidaknya, hal itulah yang di­ sambut di NTT dan NTB yang memiliki lahan tidak produktif sekitar 3,5 juta hektar. Pada saat bersamaan, angka kematian ibu hamil dan balita tergolong tinggi di sana . Begitu pula gizi buruk dan kelaparan.

Penekanan pentingnya me- ngaitkan pengembangan tanam­ an jarak pagap dengan mening katnya kesehatan dan pendidik- an diungkapkan Bupati Belu Joachim Lopez. "Masyarakat harus memperoleh dampak ekonomi- nya, sehingga akses kesehatan dan pendidikan mereka menjadi lebih baik," kata dia.

Di NTT, perbaikan kesejahte raan mereka gantungkan pada jarak pagar. Di hamparan per-bukitan kering dan berbatu, seperti banyak warga di tempat lain, mereka sabar menunggu. Sedapat mungkin, jangan kecewakan mereka.

 
   
Copyright@2006. PT. Kreatif Energi Indonesia